Selamat Datang di
SurveiKu
Membantu pengembang kapasitas dan pembelajaran ASN dalam memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) secara bijak sekaligus mencegah terjadinya kelalaian digital
Ruang belajar ini lahir dari kesadaran dan refleksi atas hasil survei serta kajian yang dilakukan oleh Tim LMS BRILIANT (BRIN Learning Management System), berjudul “Etika dan Perlindungan Hukum Penggunaan Kecerdasan Buatan (AI) dalam Pengembangan Kompetensi ASN.”
Dari hasil kajian tersebut, tampak jelas bahwa kecerdasan buatan telah menjadi bagian penting dalam keseharian ASN, bukan hanya sebagai alat bantu kerja, tetapi juga sebagai mitra berpikir dan rekan berinovasi dalam pembelajaran, analisis kebijakan, dan pengembangan pelatihan. Namun di balik manfaatnya, muncul kebutuhan ruang belajar bersama yang reflektif, agar ASN dapat menggunakan AI secara aman, cerdas, dan berintegritas.
Responden dalam kajian ini terdiri atas Widyaiswara, Analis Kebijakan, Analis Pengembang Kompetensi, dan Pengembang Teknologi Pembelajaran dari berbagai lembaga pelatihan pemerintah. Pemilihan kelompok ini didasarkan pada peran strategis sebagai garda terdepan dalam pengembangan kapasitas dan pembelajaran ASN, yang kini menjadi sektor paling terdampak oleh penetrasi kecerdasan buatan
Data yang tersaji sampai dengan 10 November 2025 dengan 73 Responden
No Data Found
Geser kursor atau ketuk grafik untuk melihat rincian data secara lengkap
Kelompok jabatan fungsional ini menjadi populasi yang paling relevan untuk diteliti, karena :
Menggunakan AI secara langsung dalam proses pembelajaran, analisis kebijakan, dan inovasi pelatihan.
Berpotensi menghadapi dilema etika dan tanggung jawab hukum, ketika hasil kerja berbasis AI menimbulkan kesalahan atau bias.
Berperan penting dalam memastikan tata kelola pembelajaran ASN tetap etis dan akuntabel,
Pemilihan responden ini bertujuan untuk memetakan persepsi, praktik, serta kebutuhan regulatif dan etik dari ASN yang berada di titik temu antara inovasi digital dan tanggung jawab hukum.
Kajian awal menunjukkan bahwa sebagian besar responden aktif terlibat dalam berbagai bentuk kegiatan pengembangan kompetensi ASN, baik melalui pelatihan formal maupun pembelajaran mandiri berbasis teknologi.
No Data Found
Geser kursor atau ketuk grafik untuk melihat rincian data secara lengkap
Sebagian besar responden telah memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) generatif dalam konteks pekerjaan dan pengembangan kompetensi ASN. Dari keseluruhan responden, terlihat kecenderungan yang kuat terhadap penggunaan rutin, terutama di kalangan yang aktif mengembangkan media pembelajaran dan inovasi digital.
Sebanyak 70% responden mengaku menggunakan tool generatif AI secara rutin (lebih dari satu kali per minggu). Angka ini menunjukkan bahwa AI telah menjadi bagian dari praktik kerja sehari-hari, terutama dalam kegiatan seperti penyusunan bahan ajar, pembuatan konten visual, dan pengembangan materi pelatihan berbasis teknologi.
Sementara itu, 10% responden menggunakan AI sesekali (1–2 kali per bulan), dan 10% lainnya menyatakan pernah mencoba namun belum melanjutkan penggunaannya. Hal ini menggambarkan adanya variasi tingkat adopsi — sebagian ASN sudah berada pada tahap integrasi aktif, sementara sebagian lain masih berada pada fase eksplorasi atau adaptasi awal.
Menariknya, 10% responden lainnya menyatakan belum pernah menggunakan AI tetapi tertarik untuk mencoba, menandakan adanya potensi pertumbuhan signifikan dalam adopsi teknologi ini jika difasilitasi dengan pelatihan dan pedoman yang tepat.
Secara keseluruhan, pola ini mengindikasikan bahwa AI generatif mulai bertransformasi dari sekadar alat bantu menjadi instrumen profesional ASN dalam meningkatkan produktivitas, kreativitas, dan efisiensi pembelajaran.
Secara keseluruhan, temuan ini menggambarkan bahwa AI telah menjadi katalis produktivitas baru bagi ASN, terutama dalam kegiatan yang bersifat administratif, analitis, dan kreatif. Hasil ini memperkuat urgensi pengembangan kompetensi etis dan hukum dalam penggunaan AI, agar peningkatan kinerja ASN tetap berada dalam koridor akuntabilitas dan tata kelola yang baik (good governance).
No Data Found
Geser kursor atau ketuk grafik untuk melihat rincian data secara lengkap
Mayoritas responden merasakan dampak positif dari penggunaan kecerdasan buatan (AI) terhadap peningkatan produktivitas kerja. Dari total 73 responden, sebanyak 42 orang (57,5%) memberikan nilai tertinggi (skor 5 – Sangat Setuju) terhadap pernyataan bahwa AI membantu responden bekerja lebih efisien dan efektif.
Selain itu, 24 responden (32,9%) memberikan skor 4 – Setuju, yang berarti mereka juga merasakan manfaat signifikan meskipun belum optimal di seluruh aspek pekerjaan. Dengan demikian, hampir 90% responden (tepatnya 90,4%) mengakui bahwa AI berkontribusi nyata dalam meningkatkan produktivitas responden.
Sebaliknya, hanya sebagian kecil responden yang menilai dampak AI masih rendah — terdiri dari 3 responden (4,1%) yang memberi skor 3 (netral), serta masing-masing 2 responden (2,7%) yang memberi skor 1 – Sangat Tidak Setuju dan 2 – Tidak Setuju. Kelompok ini umumnya masih berada pada tahap awal adopsi AI atau menghadapi keterbatasan dalam mengintegrasikan teknologi tersebut ke dalam rutinitas kerja.
AI dipersepsikan sebagai pendorong kuat bagi lahirnya inovasi dan kolaborasi lintas profesi di lingkungan ASN. Sebagian besar responden menilai bahwa penggunaan kecerdasan buatan telah membuka peluang baru untuk bekerja lebih kreatif, efisien, dan terhubung dengan profesi lain di luar bidang utamanya
No Data Found
Geser kursor atau ketuk grafik untuk melihat rincian data secara lengkap
Sebanyak 32 responden (43,8%) memberikan skor tertinggi (5 – Sangat Setuju), menandakan bahwa responden sangat merasakan manfaat AI dalam memperluas jejaring dan mendorong sinergi kerja antar bidang. Sementara itu, 29 responden (39,7%) memberi skor 4, yang menunjukkan tingkat apresiasi tinggi terhadap kontribusi AI dalam memperkuat kerja kolaboratif dan inovatif di instansi responden.
Secara kumulatif, lebih dari 83% responden mengakui bahwa AI berperan positif dalam menumbuhkan budaya inovasi dan memperkuat kolaborasi lintas profesi responden. Hal ini sejalan dengan transformasi birokrasi menuju pemerintahan digital yang berbasis kolaborasi, keterbukaan data, dan pemecahan masalah lintas sektor.
Adapun sebagian kecil responden, yaitu 9 orang (12,3%) memberikan skor 3 (netral), dan hanya 3 responden (4,1%) yang menilai dampak AI masih rendah (skor 1 – Sangat Tidak Setuju 2 Tidak Setuju). Kelompok ini umumnya menghadapi keterbatasan akses, keahlian teknis, atau lingkungan kerja yang belum sepenuhnya mendukung integrasi AI.
Secara umum, hasil ini menggambarkan bahwa AI bukan hanya alat bantu produktivitas, tetapi juga telah menjadi pengungkit kolaborasi antarprofesi dan sumber inovasi organisasi
Kajian sementara emperkuat pandangan bahwa AI tidak hanya meningkatkan efisiensi kerja, tetapi juga berperan sebagai penggerak inovasi pembelajaran adaptif dan kebijakan berbasis bukti (evidence-based policy). Dalam konteks pengembangan kompetensi ASN, pemanfaatan AI diharapkan dapat mempercepat peralihan dari pendekatan pembelajaran massal menuju pembelajaran yang lebih kontekstual, personal, dan berbasis data kinerja
No Data Found
Geser kursor atau ketuk grafik untuk melihat rincian data secara lengkap
Mayoritas responden menilai kecerdasan buatan (AI) memiliki peran penting dalam mendukung pembelajaran yang dipersonalisasi (personalized learning) dan pengambilan keputusan kebijakan berbasis data. Dari total 73 responden, sebanyak 36 orang (49,3%) memberikan skor 4 – Setuju dan 27 orang (37%) memberikan skor tertinggi (5 – Sangat Setuju).
Temuan ini mengindikasikan bahwa hampir 86% responden mengakui kemampuan AI dalam membantu penyesuaian materi, gaya belajar, dan kebutuhan individu responden, serta dalam menganalisis pola data untuk mendukung perumusan kebijakan yang lebih tepat sasaran.
Sementara itu, sebagian kecil responden (7 orang atau 9,6%) bersikap netral (skor 3), dan hanya 3 responden (4,1%) yang menilai dampak AI masih rendah (skor 1 – Sangat Tidak Setuju 2 – Tidak Setuju). Hal ini menunjukkan bahwa meskipun sebagian kecil responden belum sepenuhnya merasakan manfaat langsung AI dalam konteks ini, penerimaan dan kepercayaan terhadap potensi AI secara umum sudah sangat tinggi
AI tidak hanya berfungsi sebagai alat bantu berpikir, tetapi juga telah menjadi asisten administratif digital yang mampu meningkatkan efisiensi pelaporan, akurasi dokumentasi, dan tata kelola data di lingkungan ASN. Tren ini mengarah pada terbentuknya budaya kerja yang lebih produktif, terdokumentasi dengan baik, dan berorientasi hasil (result-oriented bureaucracy)
No Data Found
Geser kursor atau ketuk grafik untuk melihat rincian data secara lengkap
Kecerdasan buatan (AI) secara signifikan dirasakan membantu responden dalam mempermudah proses pelaporan dan dokumentasi hasil kerja. Dari total 73 responden, sebanyak 34 orang (46,6%) memberikan skor tertinggi (5 – Sangat Setuju), sedangkan 31 responden (42,5%) memberikan skor 4 – Setuju
Dengan demikian, hampir 9 dari 10 responden (89,1%) menilai bahwa AI telah memberikan kontribusi nyata terhadap efisiensi kerja administratif dan penyusunan dokumen profesional. Responden menganggap bahwa alat bantu AI, seperti ChatGPT, Copilot, dan Gemini, mampu mempercepat proses penyusunan laporan, pembuatan ringkasan hasil kegiatan, serta penyajian data dalam format yang lebih sistematis dan komunikatif.
ASN menyadari potensi risiko AI, masih terdapat celah literasi digital dan etika data yang perlu diperkuat. Edukasi tentang cara memeriksa validitas hasil AI, mengenali bias algoritmik, dan melakukan verifikasi manusia (human oversight) menjadi langkah penting untuk memastikan penggunaan AI tetap akurat, aman, dan bertanggung jawab di lingkungan kerja ASN
No Data Found
Geser kursor atau ketuk grafik untuk melihat rincian data secara lengkap
Tingkat kekhawatiran responden terhadap potensi ketidakakuratan informasi yang dihasilkan oleh AI tergolong moderat, dengan kecenderungan sikap hati-hati namun belum sepenuhnya kritis. Dari total 73 responden, sebanyak 18 orang (24,7%) memberikan skor tertinggi (5-Sangat Setuju), dan 17 responden (23,3%) memberikan skor 4-Setuju. Ini berarti hampir setengah responden (48%) memiliki kesadaran tinggi terhadap risiko ketidakakuratan hasil kerja AI.
Menariknya, kategori netral (skor 3) justru menjadi kelompok terbesar dengan 26 responden (35,6%). Tingginya porsi responden yang bersikap netral dapat ditafsirkan dalam dua kemungkinan:
Responden belum sepenuhnya memahami bagaimana AI dapat menghasilkan informasi yang bias atau tidak akurat, sehingga belum memiliki tingkat kewaspadaan yang memadai; atau
Responden menunjukkan sikap hati-hati tanpa pengalaman langsung terhadap risiko tersebut, sehingga memilih posisi aman di tengah antara percaya dan khawatir.
Sementara itu, 8 responden (11%) memberikan skor 2-Tidak Setuju dan 4 responden (5,5%) memberikan skor 1-Sangat Tidak Setuju, menunjukkan sebagian kecil responden yang sudah cukup percaya terhadap kemampuan AI atau menganggap isu akurasi bukan ancaman besar bagi pekerjaannya
Kondisi yang menunjukkan adanya kesenjangan literasi etika dan hukum digital di kalangan ASN, khususnya dalam aspek data governance, intellectual property, dan digital consent.
No Data Found
Geser kursor atau ketuk grafik untuk melihat rincian data secara lengkap
Tingkat kekhawatiran responden terhadap risiko pelanggaran hak cipta dan privasi data akibat penggunaan AI berada pada level sedang hingga tinggi. Dari total 73 responden, kelompok terbesar memberikan skor 3-Netral dan 5-Sangat Setuju, masing-masing sebanyak 22 responden (30,1%), diikuti oleh 17 responden (23,3%) dengan skor 4-Setuju.
Kecenderungan distribusi ini memperlihatkan dua hal penting:
Sebagian responden sudah memiliki kesadaran tinggi terhadap risiko etika dan hukum dalam pemanfaatan AI, terutama terkait data pribadi, kepemilikan konten, serta potensi plagiarisme atau data leakage.
Namun, adanya jumlah besar pada kategori netral (skor 3) mengindikasikan masih adanya ambiguitas pemahaman atau ketidakpastian mengenai sejauh mana AI berpotensi melanggar hak cipta dan privasi data.
Dengan kata lain, kelompok netral ini bisa mencerminkan dua kemungkinan:
Responden belum sepenuhnya memahami mekanisme pengumpulan dan penggunaan data oleh sistem AI, sehingga belum menyadari risiko yang sebenarnya; atau
Responden menilai pelanggaran hak cipta dan privasi belum menjadi ancaman langsung dalam konteks pekerjaannya, meskipun risiko tersebut nyata di tingkat sistemik.
AI belum dianggap ancaman langsung terhadap eksistensi profesi ASN, melainkan sebagai katalis transformasi peran
No Data Found
Geser kursor atau ketuk grafik untuk melihat rincian data secara lengkap
Persepsi responden terhadap potensi AI menggeser peran profesional manusia masih cukup beragam dan cenderung moderat. Dari total 73 responden, kelompok terbanyak memberikan skor 3 (netral) sebanyak 18 responden atau 24,7%, diikuti oleh skor 4-Setuju (23,3%) dan skor 5-Sangat Setuju (20,5%).
Distribusi ini menunjukkan bahwa mayoritas responden (sekitar 68,5%) berada pada rentang persepsi netral hingga khawatir, menandakan adanya kesadaran akan perubahan peran manusia di era otomasi, namun belum sepenuhnya disertai kekhawatiran ekstrem. Sementara itu, 16 responden (21,9%) memberi skor 2-Tidak Setuju dan 7 responden (9,6%) memberi skor 1-Sangat Tidak Setuju, yang berarti sebagian ASN masih menilai bahwa AI tidak akan menggantikan peran manusia secara signifikan dalam konteks pekerjaan ASN yang berbasis nilai, etika, dan kebijakan publik.
Menariknya, kelompok netral (skor 3) menjadi yang terbesar, yang dapat diartikan sebagai:
Responden menyadari potensi AI untuk mengubah cara kerja, tetapi belum memiliki pemahaman mendalam tentang sejauh mana AI dapat menggantikan peran manusia secara substantif; atau
Responden melihat bahwa AI justru berfungsi sebagai alat bantu kolaboratif, bukan pengganti profesional, terutama di bidang pembelajaran, analisis kebijakan, dan pengembangan kompetensi responden
AI belum dianggap ancaman langsung terhadap eksistensi profesi ASN, melainkan sebagai katalis transformasi peran
No Data Found
Geser kursor atau ketuk grafik untuk melihat rincian data secara lengkap
Persepsi responden terhadap potensi AI menggeser peran profesional manusia masih cukup beragam dan cenderung moderat. Dari total 73 responden, kelompok terbanyak memberikan skor 3 (netral) sebanyak 18 responden atau 24,7%, diikuti oleh skor 4-Setuju (23,3%) dan skor 5-Sangat Setuju (20,5%).
Distribusi ini menunjukkan bahwa mayoritas responden (sekitar 68,5%) berada pada rentang persepsi netral hingga khawatir, menandakan adanya kesadaran akan perubahan peran manusia di era otomasi, namun belum sepenuhnya disertai kekhawatiran ekstrem. Sementara itu, 16 responden (21,9%) memberi skor 2-Tidak Setuju dan 7 responden (9,6%) memberi skor 1-Sangat Tidak Setuju, yang berarti sebagian ASN masih menilai bahwa AI tidak akan menggantikan peran manusia secara signifikan dalam konteks pekerjaan ASN yang berbasis nilai, etika, dan kebijakan publik.
Menariknya, kelompok netral (skor 3) menjadi yang terbesar, yang dapat diartikan sebagai:
Responden menyadari potensi AI untuk mengubah cara kerja, tetapi belum memiliki pemahaman mendalam tentang sejauh mana AI dapat menggantikan peran manusia secara substantif; atau
Responden melihat bahwa AI justru berfungsi sebagai alat bantu kolaboratif, bukan pengganti profesional, terutama di bidang pembelajaran, analisis kebijakan, dan pengembangan kompetensi responden